Visiting Professor: Challenges for Communication Prophetic in The Distruptive Era

Ahad, 27 November 2022, Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Humaniora Universitas Darussalam Gontor menyelenggarakan kuliah pakar dengan tema Tantaangan Komunikasi Profetik di Era Disrupsi dengan pembicara kunci Prof. Dr. Iswandi Syahputra M.Si yang merupakan wakil rektor 1 bidang akademik dan pengembangan kelembagaan di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta. Beliau telah menulis beberapa jurnal ilmiah salah satunya adalah “Hoax Logic In The Political Activities Of Indonesian Netizen On Twitter”  yang diterbitkan tahun 2020.

Pada kesempatan emas ini, terdapat dua kata kunci yang akan di diskusikan yaitu disruptive era dan communication profetik, karena pada hari ini kita semua tidak bisa terlepas dari alat komunikasi yang terhubung dengan internet, mulai dari belanja, bepergian jauh, berkomunikasi jarak jauh dan banyak sekali kegunaan alat komunikasi di era sekarang ini yang membantu kita dengan begitu mudahnya. Namun, tidak serta merta teknologi komunikasi ini terdapat manfaat secara keseluruhan, karena banyak juga kekurangannya yang hal itu membuat kekacauan dalam komunikasi.

Secara umum yang dijelaskan oleh Prof. Iswandi bahwa komunikasi propetik itu adalah komunikasi kenabian, bila disangkutkan ada pertanyaan “apakah kekacauan komunikasi bisa diselesaikan dengan  komunikasi propetik? Kalau komunikasi propetik bisa menjadi solusinya, bagaimana penerapannya di level teoritis dan di level praktis?” dan pertanyaan ini lah yang menjadi pembahasan kuliah pakar ini.

Menjadi mahasiswa itu harus memegang tiga hal: etika, skill, network. Saat kita bodoh tapi kita mempunyai akhlak atau etika, maka kita akan tetap baik. Diperkuliahan itu lupakan soal ijazah, fokus saja pada proses yang akan membawa kita pada saat datangnya waktu wisuda dan pelajari lah salah satu minat bakat yang akan kita pegang menjadi skill kita. Network, network ini seperti jaringan kita dengan orang lain, semakin banyak jejaring kita maka semakin luas juga kita mengetahui banyak hal.

Komunikasi propetik itu sebenarnya merupakan suatu ilmu pengetahuan, bukan memaksudkan bahwa jika kita berkomunikasi itu harus meneladani cara Rasulullah S.A.W berkomunikasi. Di Barat, sumber ilmu ada dua yaitu rasionalisme atau empirisme. Ada suatu pendapat mengatakan bahwa wahyu itu sumber pengetahuan, sehingga menjadikan islam itu bukan suatu ajaran tetapi merupakan ilmu pengetahuan.

Foto Bersama Prof. Dr. H. Iswandi Syahputra, M.Si dan seluruh peserta kuliah pakar

Kalau kita tahu, dalam hati kita itu ada 4 sifat kenabian: shidiq, amanah, tabligh, fatonah. Kepintaran ilmu pengetahuan itu berasal dari hati manusia. Hati ini menjadi alarm bagi kita semua, jika ada ayat “wahai orang yang beriman!” itu yang dipanggil adalah hati kita, bukan mata atau telinga. Kalau hati bersih, semua akan bersih juga, maka kalau kita bisa berhati-hati dalam segala hal, maka kita akan selamat. Hati ini selalu memberitahu kita kebenaran namun manusia banyak yang tidak mendengarkannya, sehingga reduplah hati itu. Maka ada ayat yang menjelaskan  barangsiapa mengenal dirinya, mengenal hatinya, maka Allah mengenalnya dan dia mengenal Allah S.W.T. sehingga dia akan selamat dari apapun.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *