Puasa: Penidikan Menuju Taqwa

Posted by

Setiap tanggal 2 Mei Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan tersebut ditetapkan melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 yang ditetapkan pada tanggal 16 Desember 1959. Peringatan Hardiknas ini bertepatan dengan hari lahir Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, akan tetapi peringatan Hardiknas tidak hanya sebatas memperingati hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Lebih dari itu adalah untuk menumbukan semangat patriotisme pendidikan di Indonesia. Peringatan Hardiknas tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan sekaligus kita sedang dalam ujian pandemi Covid-19.

Pertanyaannya apa hubungan pendidikan dengan puasa? Para mubaligh dalam setiap tausyiahnya  selalu menyampaikan bahwa puasa adalah sarana pendidikan seorang hamba beriman untuk memperoleh derajat taqwa. Hal ini termaktub dalam Al-Qura’an Surat Al-Baqarah ayat 183 tentang perintah puasa yang artinya Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana orang – orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (QS 1:183). Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam buku Minhajul Muslim menyatakan bahwa ibadah puasa mengandung tiga faedah. Pertama, faedah ruhiyah dimana puasa melatih diri untuk menguatkan mental agar terbiasa mengendalikan diri untuk taat kepada Allah SWT. Kedua, faedah Ijtima’iyah (sosial) yakni puasa melatih manusia hidup teratur, tertib, membentuk rasa kasih sayang antar orang beriman dan membentengi manusia dari tindakan kejahatan maupun kerusakan. Serta yang ketiga adalah faedah Sihiyah sarana latihan bagi manusia untuk mengendalikan makanan dan minuman yang dikonsumsinya sehingga menumbuhkan kesehatan.   

Tiga faedah puasa menurut  Abu Bakar Jabir Al-Jazairi tersebut jika dikaji lebih jauh bermuatan nilai – nilai pendidikan sebagaimana yang selalu disampaikan para mubaligh. Pertama faedah ruhiyah adalah sarana melatih ruhiyah seorang manusia untuk senantiasa taat kepada Allah SWT. Ketaatan tersebut tanpa ada paksaan atau motif ingin menampakkan ibadahnya di depan manusia (riya). Puasa adalah ibadah spiritual sifatnya sangat rahasia hanya orang menjalankannya yang mengetahui bahwa dia sedang berpuasa atau tidak. Dibanding dengan ritual ibadah lain misalkan sholat atau sedekah yang merupakan ritual ibadah yang terlihat oleh orang lain jika kita mengerjakannya.

Kedua faedah  ijtima’iyah (sosial)  yakni puasa melatih manusia hidup teratur, tertib, membentuk rasa kasih sayang antar orang beriman dan membentengi manusia dari tindakan kejahatan maupun kerusakan. Orang yang berpuasa sejatinya tidak akan melakukan tindakan yang merugikan orang lain karena akan mengurangi pahala puasanya. Sebagai contoh misalnya tindakan berbohong atau menyebarkan berita bohong (hoax). Berpuasa akan melatih diri untuk lebih tertib dalam menyampaikan informasi. Takut informasi tersebut bernilai kebohongan yang berpotensi merugikan orang lain, bahkan berpotensi menimbulkan kekacauan.

Terakhir faedah sihiyah (kesehatan) yakni sarana latihan bagi manusia untuk mengendalikan makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Berpuasa melatih seorang individu untuk lebih berhati – hati dalam mengkonsumsi makanan dan minuman. Misalnya orang yang berpuasa di saat berbuka sejatinya akan mengkonsumsi makanan secukupnya dengan porsi yang tidak berlebihan. Mengkonsumsi makanan secara berlebihan akan menimbulkan penyakit. Sering dijumpai bahwa orang dengan pola konsumsi berlebihan menyebabkan penyakit kegemukan (obesitas). Sebaliknya mengkonsumsi makanan secukupnya akan menciptakan kesehatan bagi tubuh.

Puasa adalah pendidikan, suatu pernyataan yang sudah tepat mengingat puasa merupakan upaya untuk meningkatkan kekuatan spritual, menertibkan kehidupan sosial dan menguatkan jasmani. Hal ini sejalan dengan pengertian pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan umumnya adalah upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan bathin), fikiran dan kesehatan jasmani yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.//yoka

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *