Kolaborasi Jurnalis Dalam Peliputan Berita Seputar Penanggulangan Penyebaran Covid-19

Posted by

Sabtu, 25 April 2020 lalu Laboratorium Komunikasi dan Media Fakultas Ilmu Sosial UNY menggelar diskusi webinar dengan mengangkat tema “ Jurnalisme Di Tengah Pandemi”. Bhekti Suryani (jurnalis Harian Jogja sekaligus anggota AJI Yogyakarta) dan Haris Firdaus (Jurnalis Kompas) adalah dua orang narasumber dalam diskusi webinar tersebut. Di dalam diskusi ini isu yang diangkat adalah bagaimana kinerja jurnalis di tengah pandemi dalam menyajikan berita khususnya terkait dengan penyebaran Covid-19 di Indonesia. Diskusi ini diselenggarakan sebagai upaya untuk mendengar secara langsung bagaimana pengalaman jurnalis dalam melakukan peliputan berita di masa pandemi saat ini.

Jurnalis adalah salah satu dari sekian profesi selain tenaga kesehatan yang kehadirannya sangat penting dan tidak dapat sepenuhnya dapat menjalankan himbauan pemerintah untuk Work from Home (WfH) dalam melakukan peliputan berita. Jika tenaga kesehatan disebut sebagai aktor yang berada di garda terdepan dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini karena tenaga kesehatan lah yang berhdapan langsung dengan pasien yang terkonfirmasi terpapar Covid-19, maka kita juga tidak dapat kesampingkan kehadiran jurnalis sebagai aktor yang bertanggung jawab dalam menyajikan berita-berita yang akurat terkait perkembangan penyebaran Covid-19 di Indonesia yang bisa saja sewaktu-waktu terpapar Covid-19. Di masa pandemi saat ini jurnalis menghadapi situasi paradoks, di satu sisi, jurnalis harus mempraktekkan protokol keamanan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya saat meliput di masa pandemi Covid-19, sehingga sebagian jurnalis memilih mengurangi frekuensi liputan di lapangan, terutama di “zona merah” seperti rumah sakit dan tempat keramaian yang mengharuskan berdesak-desakkan, di sisi lain, pada masa pandemi Covid-19 ini, peran jurnalis justru kian penting dan dibutuhkan masyarakat karena masyarakat membutuhkan informasi yang akurat dan komprehensif mengenai situasi pandemi Covid-19. Informasi yang akurat dan utuh penting sebagai panduan bagi masyarakat dalam menghadapi situasi pandemi ini, ujar Haris Firdaus.

Sementara itu disampaikan oleh Bhekti Suryani bahwa, jurnalis dalam meliput perkembangan penyebaran Covid-19 di Indonesia harus tetap menjaga kualitas berita dan berhati-hati dalam menyajikannya. Jurnalis tidak boleh membuat berita yang hiperbolis sehingga menimbulkan kepanikan, tetapi jurnalis juga tidak boleh “mengecilkan” persoalan yang terjadi sehingga masyarakat merasakan “keamanan semu”. “Keamanan Semu” ini nanti yang akan membuat warga menjadi tidak waspada dan tidak mau menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Kemudian  selanjutnya berkaitan dengan narasumber yang menjadi sumber pemberitaan, diantaranya adalah pemerintah selaku pengambil kebijakan dalam penanganan penanggulangan penyebaran Covid-19, tenaga medis atau tenaga kesehatan, gugus tugas penanggulangan penyebaran Covid-19. Jurnalis harus dapat memastikan narasumber yang benar-benar kompeten di bidangnya.

Ditengah situasi pandemi ini para jurnalis melakukan kolaborasi untuk liputan bersama. Para jurnalis ini untuk sementara waktu di tengah masa pandemi mengesampingkan prinsip kekhasan media masing-masing. Kolaborasi ini akan meringankan beban jurnalis karena dia memiliki rekan untuk berdiskusi, melakukan reportase bersama, dan berbagi data yang dimiliki. Kolaborasi juga membuat hasil peliputan jurnalis bisa mendapat perhatian yang lebih luas. Misalnya, Kolaborasi jurnalis di Yogyakarta, dalam kolaborasi itu, sejumlah jurnalis melakukan liputan bersama dengan tema,”Sebulan Penyebaran Virus Corona di Yogyakarta”. Kolaborasi tersebut menghasilkan enam tulisan yang dimuat di empat media berbeda, yakni Gatra.com, Harianjogja.com, VOA Indonesia dan Kompas.id. //nh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *